Kampung Boha, Distrik Muting, Kabupaten Merauke, Papua Selatan – Di tengah dominasi figur kepala desa yang cenderung konvensional, muncul sosok-sosok baru dengan gaya kepemimpinan yang segar dan berani tampil beda.
- Peringati Hari Pangan Sedunia 2020, SKK Migas -KKKS Papua Barat Gelar Aksi PPM Lingkungan
- Di Bulan Ramadan, Petrogas Gelar Safari Ramadan dan Program Pengembangan Masyarakat di Kabupaten Sorong
- Memeriahkan Hari Bhayangkara ke-75 Polres Merauke Laksanakan Kegiatan Fonor Darah dan Tes Antigen Gratis
Baca Juga



Di Jawa, publik mengenal Hoho Alkaf, kepala desa bertato dari Banjarnegara. Di ujung timur Indonesia, hadir Dedy Richardus Sirait, Kepala Kampung Boha, yang juga membawa semangat serupa. Ia adalah anak muda bertato yang memilih pulang dan membangun kampung sendiri.
Dedy menjabat sebagai Kepala Kampung Boha sejak tahun 2022, setelah terpilih dalam pemilihan kampung tahun 2021. Lahir pada 1986, Dedy adalah putra dari ayah berdarah Batak dan ibu asli Kampung Boha. Meski besar di lingkungan yang jauh dari pusat kota, ia tumbuh dengan semangat ingin melihat perubahan di tanah kelahirannya.
Sebelum menjabat, Dedy pernah bekerja sebagai tenaga honor di Dinas Perhubungan Bandar Udara wilayah Okaba sejak 2008. Setelah mengundurkan diri pada 2016, ia bekerja di perusahaan kelapa sawit ACP dari tahun 2019 hingga pelantikannya sebagai kepala kampung.
Penampilannya mencolok dan menyegarkan pandangan tentang sosok seorang kepala kampung. Dengan topi terbalik, kacamata di atas kepala, tato di sepanjang lengan, serta tas selempang kulit khas pekerja lapangan, Dedy menunjukkan identitas kepemimpinan yang tidak dibuat-buat. Ia hadir sebagai dirinya sendiri, tanpa meninggalkan akar budaya dan kedekatan dengan warganya.
“Dari kecil saya lihat kepala kampung ganti-ganti, tapi tidak ada perubahan. Itu yang mendorong saya maju,” ujarnya. Ia mengaku bahwa keputusannya untuk mencalonkan diri juga didorong oleh permintaan masyarakat sendiri.
Tatonya dibuat semasa muda oleh teman-temannya di Merauke, jauh sebelum ia memimpin. “Waktu kerja di perusahaan, saya buat saja. Tidak ada makna khusus, tapi tetap jadi bagian dari saya,” ungkapnya.
Kini, ia ingin menjadi contoh bagi generasi muda lain. “Jangan gengsi membangun kampung sendiri. Kalau bukan kita, siapa lagi? Jangan tunggu orang luar datang,” pesannya.
Kisah Dedy Sirait adalah potret nyata dari perubahan paradigma kepemimpinan lokal. Anak muda dengan gaya apa pun, bahkan dengan tato di tubuhnya, bisa menjadi pemimpin yang amanah dan membumi. Seperti halnya Hoho Alkaf di Jawa, Dedy di Papua menunjukkan bahwa cinta kampung halaman bisa menjadi kekuatan besar untuk membangun dari pinggiran.
- Polres Merauke Bagikan Sembako dan Masker Dalam Kegiatan Ops Bina Waspada Matoa 2021
- Peduli, Pemuda Bone Kota Jayapura Gelar Aksi penggalangan Dana Untuk Korban Gempa Sulbar
- Serbuan Dadakan Prajurit Yonif Raider 755/Yalet Kostrad di Perkampungan Merauke
