Kolaborasi KLHK, DPR RI, dan Universitas Musamus Dorong Kemandirian Desa Gambut di Papua Selatan

Abdul Rizal , Dosen Agribisnis dan Peternakan Universitas Musamus Merauke
Abdul Rizal , Dosen Agribisnis dan Peternakan Universitas Musamus Merauke

Pada tanggal 17 Maret 2025, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Bersama DPR RI komisi IV dapil Papua Selatan dan Universitas Musamus Merauke mengevaluasi kerja sama Program Kemandirian Desa Gambut di Merauke.


Dosen Agribisnis dan Peternakan Universitas Musamus Merauke, Abdul Rizal selaku salah satu pendamping Program Desa Mandiri Peduli Gambut menyampaikan bahwa program ini mencerminkan pendekatan holistik yang sinergis antara pelestarian lingkungan dan penguatan ekonomi lokal. Kolaborasi dari berbagai pihak, khususnya dalam konteks budidaya ternak dan budidaya sapi, memberikan kontribusi positif terhadap rehabilitasi lahan gambut yang sensitif ekologis secaras sekaligus membangun ketahanan pangan dan ekonomi di tingkat desa. Upaya ini menunjukkan bahwa konservasi lingkungan tidak harus beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat, justru bisa berjalan beriringan.

Fokus kegiatan penanaman pakan ternak seperti rumput hijau berkualitas, kacang-kacangan, atau tanaman penggembur gambut memberikan solusi ganda, sebagai penyediaan pakan dominan bagi ternak dan sekaligus sarana rehabilitasi ekologi. Ketika masyarakat diajarkan untuk menanam pakan lokal berkualitas, mereka tidak lagi bergantung pada pasokan pakan impor atau mahal. Hal ini memperkuat kemandirian ekonomi rumah tangga peternak sekaligus memperbaiki kualitas lahan gambut melalui vegetasi yang tahan dan adaptif, ucapnya pada kegiatan pendampingan yang berlangsung pertengahan Juni tersebut.

Abdul Rizal, mengutarakan bahwa budidaya ternak sapi dalam program ini tidak sekedar soal menambah jumlah sapi, tetapi juga membangun rantai nilai lokal, mulai dari pembibitan, perawatan, hingga pemasaran. Dengan meningkatnya produktivitas ternak dan pasokan pakan yang stabil, peternak berpeluang mengembangkan pasar lokal maupun regional, termasuk di Merauke dan sekitarnya. Peningkatan pendapatan sekaligus menciptakan lapangan kerja yang terbuka bagi masyarakat desa, yang secara langsung memperkuat ekonomi lokal.

Lanjut Rizal mengungkapkan program sangat bergantung pada pendampingan kesinambungan dan penguatan kelembagaan komunitas: petani-peternak harus tetap mendapat pelatihan, akses terhadap pasar, dan dukungan teknis maupun kelembagaan. Jika dikombinasikan dengan pendekatan partisipatif, penelitian terapan dari kampus seperti Universitas Musamus, dan sistem insentif dari pemerintah- misalnya subsidi benih pakan atau bantuan sarana ternak-maka peluang program ini berkembang menjadi model pemberdayaan desa mandiri dan peduli lingkungan akan semakin cerah.

Dengan pendekatan “konservasi sambil bertani”, Desa Sumber Mulya diharapkan menjadi contoh percontohan bagi desa-desa lain di kawasan gambut Papua Selatan. Program ini bisa menjadi model pengembangan ekonomi yang berorientasi lingkungan sekaligus membangun pemberdayaan masyarakat. Jika terus diperkuat dengan monitoring dan evaluasi kemiskinan, serta dukungan multi pihak antara kampus, pemerintah daerah dan pusat, serta lembaga swadaya masyarakat, maka Kampung Sumber Mulya akan menjadi bukti nyata bahwa pelestarian lingkungan dan kemandirian ekonomi dapat tumbuh secara bersamaan.