Merauke – Universitas Musamus melalui program Pengabdian kepada Masyarakat mengembangkan inovasi Ember Herba SEKULEJA—Serai, Kunyit, Lengkuas, dan Jahe—berbasis biopori untuk mengoptimalkan pemanfaatan pekarangan rumah masyarakat Orang Asli Papua. Program tersebut dilaksanakan secara bertahap bersama Kelompok Tani Musamus di Kampung Yanggandur, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, sejak 6 Juni hingga 7 November 2026.
- RSUP dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar Lanjutkan Program Skrining Hipotiroid Kongenital di Kabupaten Mappi
- DPD KNPI Papua Gelar Rapat Persiapan Musda Ke-XV
- Chatingan Viral Penembakan di Nafri Meresahkan Warga Kota Jayapura, Kapolresta: Hal Tersebut HOAX
Baca Juga

Program pengabdian dipimpin Ade Yuni Sahruni, S.Pd., M.Pd., bersama Anwar, S.P., M.P. dari Jurusan Agroteknologi dan Parjono, S.P., M.Sc. dari Jurusan Teknik Pertanian Universitas Musamus. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan pekarangan sebagai sumber tanaman herbal keluarga, mendukung kesehatan, serta membuka peluang usaha berbasis potensi lokal.
“Melalui program ini, kami ingin masyarakat mampu mengelola pekarangan secara mandiri, meskipun dengan lahan yang terbatas. Tanaman yang dibudidayakan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan kesehatan keluarga dan dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi,” kata Ketua Tim Pengabdian, Ade Yuni Sahruni.
Pelaksanaan program diawali dengan survei lokasi kegiatan pada 6 Juni 2026. Tim kemudian melaksanakan sosialisasi pelatihan Ember Herba SEKULEJA berbasis biopori pada 20 Juni 2026, disusul pelatihan pembuatan dan pemasangan ember pada 27 Juni 2026.
Tahapan berikutnya meliputi pelatihan pengisian media tanam pada 4 Juli 2026 dan penanaman bibit serai, kunyit, lengkuas, serta jahe pada 5 Juli 2026. Melalui pendekatan learning by doing, anggota kelompok tani terlibat langsung dalam pembuatan ember, pengisian media tanam, penanaman, hingga pemeliharaan tanaman.
Inovasi Ember Herba SEKULEJA memadukan budidaya tanaman herbal dengan teknologi biopori yang memanfaatkan limbah organik rumah tangga sebagai sumber nutrisi alami. Teknologi sederhana tersebut dirancang agar mudah diterapkan oleh masyarakat di pekarangan rumah tanpa membutuhkan lahan yang luas maupun biaya perawatan yang besar.
Ade menjelaskan, pendampingan tidak hanya berfokus pada proses penanaman, tetapi juga diarahkan pada kemampuan masyarakat dalam mengolah hasil panen. Menurutnya, hasil budidaya serai, kunyit, lengkuas, dan jahe nantinya dapat dikembangkan menjadi minuman herbal SEKULEJA.
“Kami tidak ingin kegiatan ini berhenti setelah proses penanaman. Masyarakat juga akan didampingi untuk mengolah hasil panen menjadi minuman herbal sehingga produk yang dihasilkan memiliki nilai tambah dan berpeluang menjadi sumber pendapatan keluarga,” ujarnya.
Salah seorang anggota Kelompok Tani Musamus menyambut positif program tersebut. Ia menilai pelatihan yang diberikan mudah dipahami karena peserta terlibat langsung dalam setiap tahapan kegiatan.
“Kami senang karena sekarang pekarangan rumah bisa dimanfaatkan untuk menanam tanaman herbal. Semoga hasil panennya bermanfaat bagi kesehatan keluarga dan ke depan bisa menjadi tambahan penghasilan,” katanya.
Sebagai tindak lanjut, tim pengabdian dijadwalkan melaksanakan serah terima peralatan bersama mitra pada 1 Agustus 2026. Selanjutnya, monitoring dan evaluasi kegiatan akan dilakukan pada 7 November 2026 untuk menilai keberlanjutan penerapan inovasi serta manfaatnya bagi masyarakat.

Program tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan pemanfaatan pekarangan rumah, tetapi juga membangun kebiasaan masyarakat dalam mengolah limbah organik, membudidayakan tanaman herbal, dan mengembangkan produk lokal secara berkelanjutan. 
- Inspektorat Raih Nilai Tertinggi, Apolo Safanpo Tegaskan Komitmen Kinerja Akuntabel di Papua Selatan
- Prajurit Pasmar 3 dan Batalyon Zeni 3 Marinir Berhasil Raih Juara Utama dan Juara 1 di Kejuaraan Pencak Silat Gubernur PBD Cup
- Uskup Agung Merauke Bahas Toleransi Beragama dan Penanggulangan Miras di Boven Digoel
