Merajut Harapan dari Danau Bian: Cerita di Balik Konsultasi Publik PT BIA 2025

Pagi itu, pada tanggal 30 September 2025, aula Swisbel Hotel Merauke terasa hangat saat Konsultasi Publik BIAN Project 2025 dimulai. Tarian Balada Cendrawasih dari Sanggar Masu membuka acara dengan anggun, seolah membawa para tamu menyusuri lanskap Papua yang hijau dan penuh kehidupan. Pembukaan ini menjadi pengingat bahwa yang dibicarakan bukan hanya laporan program, tetapi masa depan hutan, air dan masyarakat yang hidup di dalamnya.


Presiden Direktur PT Bio Inti Agrindo Kong Byoung Sun menyampaikan bahwa upaya menjaga lingkungan dan memberdayakan masyarakat adalah prinsip dasar perusahaan. Di layar, terpampang gambar Suaka Margasatwa Danau Bian yang selama ini menjadi sumber kehidupan bagi delapan kampung di sekitarnya.

Asisten II Setda Kabupaten Merauke Ir. Yustina Sianturi yang hadir mewakili Bupati Merauke menyampaikan dukungan pemerintah terhadap investasi berkelanjutan. Ia menilai komitmen NDPE sangat penting agar pembangunan tidak merusak alam dan tetap menghormati masyarakat adat yang telah menjaga tanah ini sejak lama.

Sesi presentasi dari Renate Rita Theresia Rahaor menjadi salah satu yang paling menarik perhatian. Ia menjelaskan perjalanan BIAN Project sebagai program di luar perusahaan yang berfokus pada dua bidang yaitu konservasi dan sosial. Ia menceritakan patroli hutan bersama Masyarakat Mitra Polhut, upaya pencegahan kebakaran oleh Masyarakat Peduli Api, pembangunan kandang transit untuk hewan sitaan dan kegiatan pemantauan air di lokasi yang hanya bisa dijangkau dengan perahu.

Di bagian sosial, Renate menampilkan foto anak-anak kampung yang kini mulai lancar membaca serta kelompok usaha yang memproduksi minyak kelapa murni, sabun herbal dan noken sebagai produk unggulan dari delapan kampung dampingan.

Saat istirahat, para tamu mengunjungi stan pameran UMKM binaan PT BIA yang menampilkan berbagai produk lokal. Para pengrajin menjelaskan proses pembuatan produk mereka sambil berbagi harapan tentang masa depan usaha kampung.

Kegiatan kemudian berlanjut dengan sesi diskusi untuk topik konservasi dan sosial. Berbagai masukan muncul mulai dari peningkatan patroli, tantangan transportasi di Kalibian hingga perlunya dukungan fasilitas bagi masyarakat kampung.

Menjelang siang, kegiatan ditutup dengan suasana penuh optimisme. Konsultasi Publik 2025 tidak hanya menjadi agenda tahunan tetapi juga ruang perjumpaan yang menunjukkan bagaimana pemerintah, perusahaan dan masyarakat Papua Selatan bekerja bersama menjaga Danau Bian dan merajut harapan untuk generasi mendatang.