BOVEN DIGOEL – Upaya penyelamatan keanekaragaman hayati di jantung Papua memasuki babak baru. Tim riset dari Fakultas Kehutanan IPB University bekerja sama dengan TSE Group merumuskan strategi pelestarian jangka panjang melalui program bertajuk "Papua Conservation". Penelitian ini difokuskan pada dua spesies ikonik yang terancam punah: Kura-kura Moncong Babi dan Burung Cendrawasih Kuning Besar.
- Sambut Hari Bhayangkara ke 78, Kapolres Boven Digoel Gelar Baksos Religi, Bantu Penyelesaian Gereja
- KPUD Boven Digoel Gelar Sosialisasi Penggunaan Aplikasi LHP Pada Tingkat SMA
- Peduli, Pemuda Bone Kota Jayapura Gelar Aksi penggalangan Dana Untuk Korban Gempa Sulbar
Baca Juga
Teknologi Canggih di Tengah Hutan
Dalam upaya memantau populasi Kura-kura Moncong Babi, tim peneliti menyusuri Sungai Kao sepanjang 183,5 km. Tidak hanya mengandalkan metode konvensional, riset ini menggunakan teknologi GPS Tracking secara real-time. Alat pelacak dipasang pada kura-kura dewasa untuk memahami pola pergerakan dan interaksi mereka dengan lingkungan sungai yang dinamis.
Selain itu, sebuah kapal riset yang berfungsi sebagai laboratorium mobile dikerahkan untuk mendukung mobilitas tim di lapangan. "Kapal ini memungkinkan kami bekerja lebih efisien tanpa harus meninggalkan lokasi habitat utama saat melakukan pengambilan data," ujar salah satu peneliti dalam dokumentasi tersebut.
Menghadapi Ancaman Kepunahan
Kura-kura Moncong Babi kini menghadapi tekanan berat akibat perubahan iklim dan eksploitasi telur secara masif. Di wilayah pedalaman, pengambilan telur kura-kura seringkali menjadi sumber pendapatan instan bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pokok.
Di sisi lain, populasi Cendrawasih Kuning Besar juga menunjukkan tren penurunan. Perburuan bulu di masa lalu serta kerusakan habitat menjadi faktor utama. Tim riset secara konsisten melakukan bird watching untuk mendata jumlah populasi, perilaku kawin (lek), serta pohon-pohon sumber pakan yang vital bagi kelangsungan hidup "Burung Surga" ini.
Harmoni Bersama Masyarakat Adat
Salah satu poin krusial dalam program ini adalah keterlibatan masyarakat adat. Peneliti mengakui bahwa pengetahuan lokal tentang siklus alam dan lokasi peneluran kura-kura jauh lebih akurat dibandingkan peta manapun.
Pendekatan yang diambil oleh TSE Group dan IPB bukanlah pelarangan total, melainkan Pemanfaatan Lestari. Strategi ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat agar tidak memanen seluruh telur kura-kura, melainkan menyisakan sebagian untuk menetas demi keberlanjutan populasi, sembari mencari solusi untuk meningkatkan nilai ekonomi bagi warga lokal.
Harapan Masa Depan
Melalui program kolaborasi selama lima tahun ini, diharapkan tercipta sebuah model konservasi yang menyeimbangkan antara kepentingan industri, perlindungan alam, dan kesejahteraan masyarakat lokal. Tanpa langkah nyata hari ini, dikhawatirkan generasi mendatang hanya akan mengenal kekayaan alam Papua melalui catatan sejarah dan foto semata.
- THR PNS 2025, Target Cair 3 Minggu Sebelum Lebaran
- Bakti Sosial Bhayangkari Peduli di 2 Kampung Wilayah Merauke
- Program CSC TSE Group : Pilar Lingkungan
