Perempuan Tani di Kampung Sumber Mulya kini tidak lagi repot menyiram tanaman secara manual. Berkat program pengabdian masyarakat dari Tim Universitas Musamus yang diketuai Anwar, S.P., M.P. dengan dukungan Program BIMA Kemendikbudristek, Kelompok Tani Wanita Kharisma Sejati mendapatkan sentuhan teknologi terbaru berupa sistem penyiraman berbasis Internet of Things (IoT) serta pelatihan pembuatan pestisida nabati dari tumbuhan lokal.
- Gerakan Mahasiswa Saat Ini Melemah Berbeda Pada Era Soeharto,
- Dakwaan Syahrul Yasin Limpo, Hari Ini Dibacakan
- Polisi Ciduk Pelaku Pencurian di Lembah Sunyi, Kerugian Korban Berkisar Jutaan Rupiah
Baca Juga
Program ini dirancang tidak hanya untuk meningkatkan produktivitas hortikultura, tetapi juga untuk memperkuat peran petani perempuan dalam inovasi pertanian. Kegiatan diawali dengan survei lokasi, sosialisasi, hingga penyuluhan tentang pemanfaatan teknologi tepat guna dan penggunaan pestisida ramah lingkungan.
Salah satu sesi yang paling menarik perhatian peserta adalah demonstrasi penyiraman berbasis IoT. Jika sebelumnya penyiraman dilakukan menggunakan ember, gembor, selang, atau gayung yang menyita banyak waktu dan tenaga, kini penyiraman dapat dijadwalkan secara otomatis hanya dengan sentuhan pada layar smartphone. Sistem ini membuat penggunaan air lebih hemat, penyiraman lebih merata, dan jadwal tanam lebih terkontrol.
Anggota tim Syaful Nugraha, S.Kom., M.Kom., Dosen Teknik Informatika Universitas Musamus, Menegaskan bahwa sistem IoT ini memang dirancang sederhana agar mudah dioperasikan. “Sistem penyiraman otomatis ini praktis, hemat waktu, tenaga, dan air. Selain itu, hasil penyiraman menjadi lebih konsisten dan terukur. Teknologi ini adalah langkah awal digitalisasi pertanian di tingkat desa,” jelasnya. Instalasi langsung di lahan percontohan pun membuat para ibu tani semakin percaya diri untuk mengoperasikan aplikasi tersebut secara mandiri.
Selain penyiraman otomatis, tim juga memperkenalkan pestisida nabati (Pesnab) berbahan daun komba-komba, beluntas, dan sirsak. Racikan alami ini terbukti efektif menekan serangan organisme pengganggu tanaman, sekaligus membantu menekan biaya produksi tanpa mencemari lingkungan. Inovasi ini menjadi alternatif ramah lingkungan dibandingkan penggunaan pestisida kimia.
Ketua Kelompok Tani Wanita Kharisma Sejati, dalam testimoninya, menyampaikan rasa syukur atas program ini. “Kami sangat terbantu. Penyiraman sekarang bisa dikendalikan lewat HP sesuai kebutuhan. Program ini memberi semangat baru, pengetahuan baru, dan motivasi bagi kami untuk terus berkarya di bidang hortikultura,” ujarnya penuh antusias.
Apresiasi juga datang dari Kepala Kampung Sumber Mulya. “Kami berterima kasih kepada Kemendikbudristek dan Universitas Musamus. Inovasi ini nyata dampaknya bagi petani di kampung kami. Harapan kami, ke depan semakin banyak kelompok tani lain yang mendapat pembinaan dengan teknologi serupa,” ucapnya.
Dengan hadirnya pestisida nabati dan teknologi IoT, Kelompok Tani Wanita Kharisma Sejati kini lebih efisien, produktif, dan berdaya saing. Biaya produksi menurun, hasil pertanian bisa meningkat, dan semangat kebersamaan semakin kuat. Program ini membuktikan bahwa inovasi berbasis teknologi dan kearifan lokal dapat menjadi motor penggerak kemandirian sekaligus memperkuat peran perempuan dalam pembangunan pertanian berkelanjutan. 
- Rektor Universitas Musamus, Prof. Philipus Betaubun Tutup Usia
- Polisi Ciduk Pelaku Pencurian di Lembah Sunyi, Kerugian Korban Berkisar Jutaan Rupiah
- Dosen Universitas Musamus Melakukan Pendampingan Kelompok Usaha Ternak Ayam Kampung di Kampung Sumber Mulya