Boven Digoel, Papua Selatan – Direktur RSUD Boven Digoel, dr. Novita Tandi, saat ditemui di ruang kerjanya pada Selasa (17/9/2025), menjelaskan bahwa permasalahan yang terjadi di RSUD saat ini disebabkan oleh adanya perubahan sistem keuangan terbaru. Seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD), termasuk rumah sakit, mengalami peralihan dari sistem keuangan lama ke sistem SIPD (Sistem Informasi Pemerintahan Daerah) yang mulai diterapkan pada 2025.
- 97 Penumpang dari Luar Papua Terkonfirmasi Negatif Covid-19 Usai Dilakukan Swab Antigen
- Ratusan Prajurit dan PNS Kodim 1707/Merauke di Suntik Vaksin
- Luar Biasa!! Masyarakat Adat Di Kampung Wambi Hibahkan Tanahnya Untuk Bangun Puskemas Pembantu
Baca Juga
“Ketika sistem SIPD mulai diterapkan, semua OPD di Boven Digoel termasuk rumah sakit mengalami dua kali efisiensi. Pertama, karena Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 tahun 2025, dan kedua, karena adanya Pemilihan Suara Ulang (PSU) Pilkada Boven Digoel. Ini menyebabkan sistem keuangan sangat terganggu dan mengakibatkan keterlambatan, yang memicu protes dari beberapa pihak,” jelas dr. Novita.
Namun, ia menegaskan bahwa dalam hal pendapatan asli daerah (PAD), pemerintah daerah tidak pernah mempersulit proses di rumah sakit. Proses penagihan jasa medis pun berjalan dengan lancar, tanpa hambatan dari pihak BPKAD.
Terkait hasil temuan Pansus DPRK Boven Digoel, dr. Novita menyampaikan beberapa poin penting:
“Saat tim DPRK datang, rumah sakit sedang dalam proses pembelian obat melalui sistem E-Katalog.Dalam sistem ini, kami harus bersaing dengan seluruh rumah sakit di Indonesia, sehingga pengadaan membutuhkan waktu. Namun, puji Tuhan, sampai tanggal 16 September ini, lebih dari 90% obat yang dibeli melalui E-Katalog sudah tiba.”
Ia mengakui bahwa selama bertahun-tahun, air di rumah sakit berwarna kuning dan tidak layak pakai. Namun, melalui bantuan Pemerintah Provinsi Papua Selatan, telah dibangun tiga titik sumur dalam dengan kedalaman 102 meter. “Sekarang, ketersediaan air bersih sudah terpenuhi,” tambahnya.
Dalam menilai kelayakan alat kesehatan, RSUD Boven Digoel menggunakan aplikasi ASPAK dari Kementerian Kesehatan. Rumah sakit saat ini berada pada tingkatan tipe D, dan sudah sesuai dengan standar yang ditetapkan. Namun, masih ada beberapa penyesuaian yang perlu dilakukan, seperti jumlah tempat tidur.
“Jika jumlah tempat tidur tidak sesuai dengan standar, penilaian dari Kemenkes bisa terpengaruh. Tapi karena RSUD Boven Digoel sudah berada di tingkat terendah (tipe D), tidak bisa diturunkan lagi. Kami akan terus melakukan pembenahan sambil dimonitor oleh Dinas Kesehatan,” terang dr. Novita.
Di akhir wawancara, ia menyampaikan harapan kepada pemerintahan daerah yang baru:
“Kami berharap pemerintah ke depan dapat lebih memperhatikan sarana dan prasarana rumah sakit agar bisa bersaing dengan rumah sakit lainnya, serta memungkinkan RSUD Boven Digoel naik tipe.”
- Wabup Sularso Jadi Orang Pertama di Merauke Penerima Vaksin Covid-19
- Sah Dilantik. 57 Dokter Hewan Siap Cegah Penyebaran Penyakit Hewan di Papua
- Keterbatasan Tenaga Medis di Pustu Merauke Menjadi Fokus Perhatian