Kemendes PDT Dorong Intervensi Sistem Pangan di Boven Digoel, Target Realisasi 2027

Boven Digoel, Papua Selatan – Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) menegaskan komitmennya dalam mendorong percepatan pembangunan di daerah tertinggal melalui Program Indonesia Food Systems and Infrastructure for Villages in Disadvantaged Areas (IFSIV).


Hal tersebut disampaikan Direktur Penyerasian Pemanfaatan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Kemendes PDT RI, Fince Decima Hasibuan, saat kunjungan kerja di Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan, di Balai Kampung Sokanggo, Distrik Mandobo, Selasa (5/5/26)

Fince mengatakan, saat ini Boven Digoel masih termasuk dalam kategori kabupaten tertinggal di Indonesia, sehingga menjadi salah satu daerah prioritas intervensi pemerintah pusat.

“Dari sekitar 30 kabupaten tertinggal di Indonesia, program ini akan difokuskan pada 15 kabupaten, termasuk Boven Digoel,” ujarnya.

Ia menjelaskan, program tersebut masih dalam tahap perencanaan dan ditargetkan mulai direalisasikan pada tahun 2027. Kunjungan lapangan yang dilakukan saat ini bertujuan untuk menyerap langsung kebutuhan masyarakat di tingkat kampung.

“Kami datang bukan hanya untuk sosialisasi, tetapi untuk mendengar langsung kebutuhan masyarakat di kampung. Apa yang benar-benar dibutuhkan, itu yang akan menjadi dasar intervensi program,” jelasnya.

Dalam implementasinya, program IFSIV akan difokuskan pada tiga komponen utama.

Pertama, peningkatan layanan dasar yang menitikberatkan pada aspek kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, termasuk edukasi gizi, perubahan perilaku hidup sehat, penyiapan kader gizi, sistem pemantauan, serta penyediaan air bersih dan sanitasi.

“Kami sangat membutuhkan masukan dari dinas kesehatan dan pemerintah kampung terkait kondisi riil di lapangan,” tambahnya.

Kedua, penguatan rantai nilai pangan lokal yang berkelanjutan dan berketahanan iklim. Komponen ini mencakup peningkatan produksi pangan berbasis pendekatan ramah iklim, pelatihan dan pendampingan masyarakat, hingga penciptaan local champions di tingkat desa.

Selain itu, program juga akan mendorong pengembangan infrastruktur distribusi, akses pasar, kemitraan usaha, inkubasi bisnis, akses pembiayaan, digitalisasi pemasaran, serta inovasi dalam pengelolaan sistem pangan.

Ketiga, penguatan kebijakan di tingkat kampung, termasuk penyusunan regulasi terkait sistem pangan berbasis potensi lokal.

Fince juga menekankan pentingnya pendekatan berbasis klaster, di mana beberapa kampung akan saling terhubung dan bekerja sama dalam pengembangan potensi masing-masing.

“Kami berharap antar kampung dalam satu klaster bisa saling bersinergi. Misalnya, satu kampung fokus produksi, kampung lain pada pemasaran. Jadi ada kerja sama yang saling menguatkan,” ungkapnya.

Ia turut meminta dukungan dari pendamping desa, pemerintah distrik, hingga pemerintah kabupaten sebagai perpanjangan tangan kementerian dalam mengawal implementasi program di daerah.

Kunjungan ini menjadi bagian dari proses awal penyusunan program IFSIV yang diharapkan mampu mendorong ketahanan pangan, peningkatan kesejahteraan, serta pembangunan berkelanjutan di wilayah tertinggal, khususnya di Kabupaten Boven Digoel.