- STATUS KEPEMILIKAN PENGETAHUAN LOKAL SUKU MARORI
- Menakar Keadilan Era KUHP Baru dan Arti Penting UU Perampasan Aset
- Mengarungi Samudra Formalisme: Tantangan Baru Penyidik Polri di Era Reformasi Hukum Acara
Baca Juga
Dies Natalis Korps HMI-Wati (Kohati) yang ke-59 tahun adalah momentum penting untuk kembali menegaskan misi keumatan dan kebangsaan melalui perempuan Indonesia. Sejak berdiri pada 17 September 1966, Kohati membawa mandat sejarah: melahirkan kader perempuan muslim yang unggul, mandiri, dan berdaya dalam membangun bangsa untuk tercapainya tujuan HMI. Namun, di tengah berbagai capaian itu, ada satu isu besar yang harus terus menjadi perhatian yakni pendidikan perempuan dan anak.
Pendidikan adalah akar dari segala peradaban. Tidak ada bangsa yang maju tanpa menjadikan pendidikan sebagai prioritas. Namun hingga kini, masih banyak anak perempuan yang tertinggal aksesnya terhadap pendidikan bermutu, khususnya di wilayah pelosok dan 3T. Keterbatasan fasilitas, pernikahan usia dini, serta budaya patriarki di beberapa wilayah yang masih menjadi tembok penghalang bagi perempuan untuk menggapai mimpi. Padahal, ketika satu perempuan tertinggal dari pendidikan, maka satu generasi berisiko kehilangan masa depannya.
Data BPS tahun 2024 mencatat, rata-rata lama sekolah penduduk usia 15 tahun ke atas di Indonesia baru mencapai 9,22 tahun, setara dengan tamat SMP. Sementara itu, data SIGA KemenPPPA 2022 menunjukkan rata-rata lama sekolah perempuan hanya 8,87. Artinya, sebagian besar perempuan Indonesia masih berhenti menempuh pendidikan di jenjang SMP hingga awal SMA. Situasi ini berimplikasi langsung pada tingginya angka kemiskinan, terbatasnya akses perempuan pada ekonomi dan politik, serta berkontribusi pada masalah kesehatan ibu dan anak hingga stunting yang masih menghantui masa depan bangsa. Dengan kata lain, pendidikan perempuan bukan sekadar isu sektoral, melainkan jantung dari pembangunan nasional.
Di sinilah Kohati harus mengambil peran. Kohati tidak cukup hanya menjadi wadah kaderisasi, tetapi harus tampil sebagai pelopor gerakan pendidikan perempuan. Itu bisa diwujudkan melalui advokasi kebijakan, pemberdayaan masyarakat, hingga program konkret. Kohati memiliki modal sosial yang besar seperti jaringan kader, saat ini terdapat 268 cabang dan 23 badan koordinasi yang terintegrasi dari pusat sampai daerah, energi muda yang progresif, serta identitas keislaman dan kebangsaan yang melekat kuat dalam diri setiap kader HMI-Wati se-Indonesia.
Tentu, isu perempuan lain seperti kekerasan berbasis gender, ketidaksetaraan ekonomi, minimnya keterwakilan perempuan, serta kesehatan ibu dan anak tetap relevan. Namun, pendidikan adalah akar dari seluruh problem itu. Perempuan yang terdidik akan lebih mampu melawan kekerasan, membangun kemandirian ekonomi, menuntut representasi politik, hingga menjaga generasi dari ancaman gizi buruk dan stunting.
Memasuki usia ke-59, Kohati perlu menjadikan pendidikan perempuan sebagai panggilan sejarah, untuk kembali menentukan satu gerakan nasional yang masif dan terfokus pada pendidikan perempuan dan anak. Inilah refleksi kebangsaan yang harus dijawab bersama: bagaimana memastikan tidak ada lagi anak perempuan Indonesia yang kehilangan hak pendidikannya, dan bagaimana memastikan setiap ibu di negeri ini memiliki kapasitas untuk melahirkan generasi unggul.
Selamat Dies Natalis ke-59 Kohati.
17 September bukan sekadar perayaan, melainkan deklarasi komitmen. Kohati hadir bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan untuk bangsa.
Dari ruang-ruang belajar hingga ruang-ruang kebijakan, kader HMI-Wati akan terus mengabdi, membina, mendidik, dan membangun peradaban demi mewujudnya masyarakat adil, makmur yang diridhoi Allah Subhanahu Wa Ta’ala
Ditulis oleh Salma Febrianti Rumatoras (Ketua Bidang Pendidikan dan Pelatihan Kohati PB HMI 2024-2026)
- PP GMKI Dukung Menag Yaqut Menghapus Rekomendasi FKUB dalam Pendirian Rumah Ibadah
- Emas Natal
- Mengarungi Samudra Formalisme: Tantangan Baru Penyidik Polri di Era Reformasi Hukum Acara