POV Community Gelar Simulasi Perang Dunia III: Soroti Kedaulatan Pangan, Energi, dan Perjuangan Masyarakat Adat

Merauke – Dalam rangka memperingati Hari Masyarakat Adat Internasional pada 9 Agustus 2025, Power of Voice (POV) Community bekerja sama dengan International Youth Training Centre (IYTC) Thailand dan Indigenous Movement for Climate Justice Southeast Asia (IMCS) menggelar talkshow internasional daring bertema “World War III Simulation: Food, Land, and the Right to Life”.


Acara ini membedah skenario “Perang Dunia Ketiga” dari sudut pandang konflik sumber daya, khususnya pangan, tanah, dan energi. Fokus utama diarahkan pada hak hidup masyarakat adat, petani, nelayan, perempuan, dan kelompok minoritas yang kerap terpinggirkan akibat perebutan sumber daya dan kebijakan yang tidak adil.

  • Lucia Damanik (Founder POV Community) membuka acara dan menegaskan pentingnya memperkuat suara masyarakat adat di tengah krisis iklim, ekstraktivisme, dan konflik geopolitik.
  • Dr. Teguh Santosa (keynote speaker) memaparkan bahwa konflik global kini berpusat pada perebutan pangan dan sumber daya alam, bukan lagi semata persenjataan. Ia mengingatkan perlunya diversifikasi pangan dan energi demi kedaulatan nasional.
  • Giulia (PAX Christi Internasional, Belgia) mengajak solidaritas lintas benua untuk melawan militerisasi yang mengancam akses sumber daya.
  • Beverly Longid (Indigenous Peoples Movement for Self-Determination and Liberation, Filipina) menyoroti perjuangan mempertahankan kedaulatan tanah, budaya, dan identitas masyarakat adat.
  • Rachelle Junsay (Youth Advocates for Climate Action Philippines) memaparkan peran strategis generasi muda dalam gerakan keadilan iklim dan pangan.
  • Titi Ghale (Manager IYTC) menutup acara dengan ajakan menjaga akar budaya sambil beradaptasi dengan teknologi digital.

Talkshow ini berlangsung 9 Agustus 2025 secara daring, sehingga diikuti oleh peserta lintas negara dan latar belakang.

Para pembicara sepakat bahwa konflik sumber daya tidak hanya merampas lahan dan akses pangan, tetapi juga menggerus budaya, bahasa, dan kedaulatan digital masyarakat adat. Acara ini menjadi panggilan aksi kolektif untuk melindungi hak-hak tersebut di tengah ancaman krisis global.

POV Community berkomitmen menjadi platform yang menghubungkan komunitas terdampak, memfasilitasi kolaborasi strategis, dan mendorong gerakan pro-rakyat serta pro-planet. Melalui simulasi ini, masyarakat diajak untuk aktif memperjuangkan masa depan yang adil, berkelanjutan, dan berdaulat.