Boven Digoel, Papua Sekatan - Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) RI bersama International Fund for Agricultural Development (IFAD) melaksanakan kunjungan lapangan Program Indonesia Food Systems and Infrastructure for Villages in Disadvantaged Areas (IFSIV) pada Selasa,(5/5/26). Kegiatan ini berlangsung di Balai Kampung Ogenetan, Distrik Iniyandit, Kabupaten Boven Digoel yang dihadiri Kepala Distrik, Para Kepala Kampung dan masyarakat Distrik Iniyandit.
- Inisiatif Pemerintah Mappi: Sirkuit Grass Track Sebagai Sarana Pengembangan Bakat Anak Muda
- Pembangunan Rumah Singgah Marga Ndiken Kezan: Wujud Kepedulian PT. Agripima Cipta Persada
- Staf Ahli Bupati Boven Digoel Dorong Pelayanan Kesehatan Spesialis di Kampung Biwage
Baca Juga

Direktur Penyerasian Pemanfaatan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Kemendes PDT RI, Fince Decima Hasibuan, menyampaikan bahwa pihaknya telah mengidentifikasi berbagai permasalahan sistem pangan di daerah tertinggal.
“Kami sudah mengidentifikasi permasalahan sistem pangan di daerah tertinggal. Bersama IFAD, kami juga berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian, serta Bappenas untuk melakukan intervensi melalui program sistem pangan dan infrastruktur. Langkah awal yang dilakukan adalah mengenali kondisi serta permasalahan di lapangan, dan kami berharap pada 2027 program ini sudah mulai diimplementasikan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa indikator penentuan daerah tertinggal meliputi tingkat kemiskinan, pengangguran, serta indeks desa. Melalui program ini, pemerintah berharap dapat meningkatkan produksi dan pemasaran hasil pangan, mendorong perilaku hidup bersih dan sehat, serta mengurangi kemiskinan.
“Dengan meningkatnya produksi, tentu akan membuka lapangan kerja. Kami juga mendorong Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kampung agar mengembangkan BUMDes yang lebih berorientasi bisnis sehingga dapat meningkatkan indeks desa atau kampung,” tambahnya.
Sementara itu, Program Manajer IFAD, Bayu Rahmawan, menegaskan bahwa setiap daerah tertinggal memiliki karakteristik dan tantangan yang berbeda sehingga membutuhkan penanganan yang spesifik dan berkelanjutan.
“Hasil dialog dengan masyarakat menunjukkan perlunya pendampingan yang intensif dan berkelanjutan. Program seperti ini tidak cukup dilaksanakan dalam dua tahun, tetapi minimal lima tahun agar hasilnya dapat terlihat. Selain bantuan, pendampingan menjadi kunci keberhasilan dalam meningkatkan status daerah tertinggal,” jelasnya.
Wakil Bupati Boven Digoel, Drs. Marlinus, menyampaikan apresiasi atas kunjungan Kemendes PDT yang dinilai penting untuk menyerap langsung aspirasi masyarakat.
“Kami merasa terhormat atas kunjungan ini. Pemerintah daerah berharap berbagai masukan dan kendala yang disampaikan masyarakat dapat diteruskan ke pemerintah pusat dan ditindaklanjuti, khususnya dalam pelaksanaan program dan pendampingan pada 2027,” ujarnya.
Ia juga berharap program ini mampu menjawab persoalan ketahanan pangan serta pemasaran hasil pertanian masyarakat di wilayahnya.
“Kami bersyukur karena Kemendes PDT telah mendengar langsung keluhan masyarakat. Semoga kunjungan ini membawa perubahan bagi Kabupaten Boven Digoel,” tambahnya.
Kepala Distrik Iniyandit, Beny Arungpadang, turut menyampaikan apresiasi dan harapannya terhadap program tersebut.

“Kami berterima kasih atas kunjungan ini. Kami berharap usulan-usulan dari masyarakat Distrik Iniyandit dapat direalisasikan demi kemajuan daerah kami. Kami sangat berharap Kemendes PDT dapat menindaklanjuti berbagai program dan kebutuhan yang telah disampaikan masyarakat,” ungkapnya.
- Nilai Ekspor Hingga 15,6 Persen, Badan Karantina Pertanian Sosialisasi Ekspor Komoditas
- Sempat Terjadi Keributan, Para Pelamar CPNS Papua Selatan Tuntut Penyelenggara Harus Bertanggung Jawab
- Belum Adanya Perda Trantibum Menghambat Penertiban Penjualan Miras di Boven Digoel