Memilih Pemimpin Ideal Untuk Masa Depan Merauke

Penulis adalah pengamat Politk dan juga pengacara asli Papua Selatan
Penulis adalah pengamat Politk dan juga pengacara asli Papua Selatan

Setiap orang berhak untuk memilih apa saja dan memilih siapa saja untuk dan sebagai apa dan siapa saja. setiap orang berhak dipilih oleh, untuk dan sebagai Apa dan Siapa saja, termasuk  mendapat dukungan dan memberi dukungan dalam proses Pemilihan Kepala Daerah (PEMILUKADA)pada 2020 ini.

Tanggapan mengenai adanya dukungan Tokoh Masyarakat Merauke khususnya dan Papua Selatan pada umumnya, Johanes Gluba Gebze terhadap Pasangan Calon Bupati Merauke pasangan Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati Merauke Nomor Urut 1, Hendrikus Mahuze dan Edi Santosa  (Hermes) merupakan hal yang wajar dan sah-sah saja, selama tidak melawan hukum dan regulasi yang berlaku pada Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tetapi yang mengganjal dan menjadi pertanyaan adalah, apakah Pasangan Hermes ini dalam kenyatannya sudah mirip dengan Bapak Jhon Gluba Gebze, yang notabenenya diidolakan serta ditokohkan oleh masyarkat Merauke?

Pertanyaan ini menjadi dasar atau pondasi berpikir dasar bagi masyarakat Merauke.

Karena jika masyarakat Merauke memilih Jhones Gluba Gebze sebagai pemimpin, tentulah merupakan suatu hal yang baik dan aman, hal ini disebabkan karena kualitas kepemimpinanya yang teruji mampu berkarya secara nyata untuk masyarakat Merauke.

Yang mengkhawatirkan adalah terkait dengan ajakan kepada masyarakat untuk memberi dukungan kepada Paslon Hermes dengan alasan mereka telah mendapat dukungan dari Johanes Gluba Gebze padahal dalam kenyataanya pasangan Hermes bukanlah Jhon Gluba Gebze.

Menyikapi kenyataan ini masyarakat harus jeli dan tidak salah dalam memilih, serta harus menggunakan hati nurani dalam menentukan pilhan terkait siapa yang berhak dan layak menjadi pemimpin Kabupaten Merauke untuk 5 tahun kedepan.

Banyak yang bertanya kepada saya terkait kontestasi politik di Kabupaten Merauke, kepada paslon mana kah saya menjatuhkan pilihan, dan selalu pula secara tegas saya menjawab bahwa sampai dengan saat ini saya masi belum menentukan pilihan.

Sebab saya belum menemukan paslon yang cocok dan memenuhi kriteria.

Jika ditanya seperti apa kriteria pemipin yan layak untuk memimpin Merauke 5 tahun kedepan, tenu dengan dengan tegas saya menjawab pemipin yang ideal adalah pemipin yang mirip dengan saya.

Maksud dari pemipin yang mirip dengan saya adalah kurang lebih pemimpin yang mampu mengerti hati, pikiran dan perasaan saya tentang Merauke, dalam artian adalah pemipmpin yang bisa  merasakan apa yang saya rasakan sebagao masyarakat tentang Merauke.

Melalui tulisan ini penulis mengajak masyarakat untuk berpikir secara logis, tentang apa saja yang telah dilakukan oleh para paslon Cabub dan Cawabub Merauke selama lima tahun belakangan ini, serta kaitkan dengan apa yang mereka bicarakan dan janjikan selama musim kampanye ini.

Perahtikan baik-baik dan bandingkan kelakuan mereka ketika 5 tahun yang lalu, apakah sama dengan tindakan dan janji manis mereka pada masa kampanye ini.

Tentu terjadi perbedaan yang signifikan, masing-masing dari para paslin saling berlomba untuk menjadi pahlawan yang lembut dan baik hati, bahkan ada yang telihat bagaikan seorang dermawan yang datang untuk menyelamatkan penderitaan dari masyarakat.

Kenyataan seperti ini tentunya membuat penulis merasa tergelitik sementara sadar atau tidak sada, tidak ada rasa sungkan dan malu sedikitpun kepada “Tuan Tanah” yang saat in hidup dalam keadaan susah dengan terus menjadi penonton menyaksikan hak-haknya yang dirampas serta tahtahnya dierbut.

“Dimana Bumi di Pijak, disitu langit di junjung” demikian buny dari adisium melayu yang seiring berkembangnya jaman kini sudah tak relevan lagi dengan kenyataan di Kabupaten Merauke.

Penulis nginmengajak semua orang agar mawas sidiri, akan semua menjadi sadar akan eksistensi diri masing-masing, dengan satu pertanyaan “who im I”?

Jika seseorang telah mengetahui sejauh mana eksistensi dirnya maka orang tersebut dapat menentukan sikap yang benar dan sesuai dengan dengan koridor etik.

Sejatinya seorang manusia haruslah beriman, bukan sekedar beragama, jika setiap individu telah beriman maka pada prinsipnya sudah tidak perlu ada lagi regulasi yang mengatur setiap aspek kehidupan manusia, sebab semua manusia telah mampu mengatur dirinya sendiri berkat keimaan yang terkandung didalam dirinya.