Mediasi Kembali Gagal, Nimbrod Korwa Tegaskan Bos PT. Salawati Motor dan Tersangka lain Segera Ditangkap

Korban pengrusakan rumah, Nimbrod Korwa bersama kuasa hukumnya, Jatir Yuda Marau usai pertemuan mediasi kedua yang di fasilitasi oleh penyidik Polresta Sorong Kota.
Korban pengrusakan rumah, Nimbrod Korwa bersama kuasa hukumnya, Jatir Yuda Marau usai pertemuan mediasi kedua yang di fasilitasi oleh penyidik Polresta Sorong Kota.

Mediasi korban pengrusakan rumah, Nimrod Korwa dan ketiga terduga tersangka, Pemilik PT. Salawati Motor dengan inisial LMT alias Lili, Asisten 1 Kota Sorong inisial JG dan mantan istri korban inisial MR gagal mencapai kesepakatan.


Mediasi kedua ini yang di fasilitasi oleh   penyidik Polretsa Sorong Kota kepada kedua belah pihak di ruangan unit Jatanras, Kamis 27 Agustus 2026.

Pria asal biak ini, Nimbrod Korwa usai mediasi menegaskan kasus ini tetap berjalan, ia menilai hasil mediasi hari ini tidak menemukan titik terang.

" Yang jelas bahwa mediasi hari ini gagal jadi proses hukum tetap berjalan," tegas Nimbrod Korwa.

Sementara itu,  Kuasa Hukum korban, Jatir Yuda Marau menambahkan kehadirannya disini bersama-sama kliennya atas undangan dari penyidik Polresta Sorong Kota untuk memediassi kasus pengrusakan rumah antara para tersangka dan korban.

Namun, Kata Yuda, hasil dari mediasi ini tidak berhasil karena korban belum merasa adil, sehingga korban menolak perdamaian.

"Sesuai kesepakatan di dalam ruang Polresta Sorong Kota tadi, karena upaya perdamaian gagal, maka berarti perkara lanjut. Dimana para tersangka harus segara ditahan, " kata Yuda.

Yuda menegaskan walaupun kliennya hanya masyarakat biasa hukum tidak harus pandang bulu, karena para tersangka ini di ketahui memiliki kekuasaan dan relasi yang luas hingga perkara ini di duga banyak yang intervensi.

"Saya ingatkan, hukum harus adil, dan tidak memandang bulu, mau orang terkaya di Kota Sorong atau pejabat sekalipun, bila bersalah harus diperlakukan  sama, " tegas Yuda.

Dalam kasus ini, Kata Yuda, Kepolisian harus  berhati-hati dan adil, jika penegak hukum tak bisa adil, maka kasus ini akan menjadi Yurisprudensi dengan perkara lain di masa mendatang.

"Orang kaya, punya duit banyak, berpengaruh, bisa datang bawa doser bongkar rumah siapapun sesuka hati. Karena nanti da akan dibela oleh siapapun, sementara orang kecil yang telah kehilangan rumah hanya bisa gigit jari," kata Yuda.

Yuda menilai terlalu banyak pihak yang terlibat dalam kasus ini salah satunya dari Polda Papua Barat Daya hingga pihak-pihak lainnya.

"Klien kami ini, sejak awal hanya minta keadilan, rumah nya digusur, dia hidup menumpang ke sana ke sini, sementara tersangka bebas berkeliaran dan lalu lalang dengan bebas. Itu saja yang klien kami minta para tersangka bertanggung jawab dengan perbuatan yang mereka lakukan, " kata Yuda.