- Perjuangan Atas Nama Bomi Sai di Wilayah Marori
- Masyarakat dan Arah Kebijakan Pembangunan Peternakan
- Pendidikan Merdeka Belajar dan Peran Pentingnya dalam Literasi Budaya
Baca Juga
Oleh: Hubertus Oja, S.Sos., M.Si. dan Dr. A.P. Yohanis E. Teturan, M.Si.
Kampung Wasur memiliki kekayaan alam yang tidak sedikit. Keberadaan Taman Nasional Wasur, bentang savana, rawa, keanekaragaman burung, musamus, kanguru pohon, serta karakter ekosistem khas Papua Selatan telah menjadikan kawasan ini memiliki daya tarik wisata yang kuat.
Namun, kekayaan alam tidak dengan sendirinya menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat di sekitarnya. Potensi wisata baru memiliki arti apabila mampu menciptakan perputaran ekonomi, membuka ruang usaha, memperluas lapangan kerja, dan meningkatkan pendapatan masyarakat lokal.
Dalam konteks itulah pengembangan pariwisata di Kampung Wasur perlu dievaluasi secara lebih kritis. Selama ini, keberadaan kawasan wisata belum sepenuhnya terhubung dengan pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah milik masyarakat lokal. Wisatawan mungkin datang untuk menikmati alam, tetapi belum seluruh aktivitas kunjungan tersebut menghasilkan manfaat ekonomi yang langsung dirasakan oleh pelaku UMKM di Kampung Wasur.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya mata rantai yang belum tersambung antara pariwisata dan ekonomi lokal. Produk masyarakat belum sepenuhnya menjadi bagian dari pengalaman wisata. Kerajinan, hasil hutan, makanan lokal, dan produk khas lainnya masih menghadapi persoalan dalam aspek kualitas, desain, kemasan, promosi, dan pemasaran.
Sebagian pelaku UMKM juga masih memiliki keterbatasan dalam mengelola usaha secara profesional. Kemampuan mencatat keuangan, membaca kebutuhan pasar, merancang produk, membangun merek, dan memanfaatkan media digital masih perlu diperkuat. Tanpa kemampuan tersebut, pelaku UMKM akan sulit bersaing, bahkan di daerahnya sendiri.
Persoalan ini tidak tepat apabila hanya dibebankan kepada masyarakat. Pelaku UMKM tidak mungkin berkembang sendirian tanpa sistem pendukung yang memadai. Pemerintah daerah, pengelola destinasi wisata, perguruan tinggi, pelaku perjalanan wisata, sektor swasta, dan lembaga pendamping harus hadir dalam kerangka kerja yang terintegrasi.
Program pemberdayaan juga perlu diarahkan pada kebutuhan nyata pelaku usaha. Pelatihan tidak boleh berhenti sebagai kegiatan formal yang selesai ketika acara ditutup. Pendampingan harus dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari tahap produksi, pengemasan, penentuan harga, pemasaran, hingga evaluasi perkembangan usaha.
Salah satu kelemahan yang masih terlihat adalah minimnya pemanfaatan teknologi digital. Padahal, pemasaran digital dapat membuka akses pasar yang lebih luas. Produk UMKM Kampung Wasur tidak harus menunggu wisatawan datang untuk dapat dibeli. Melalui media sosial, platform perdagangan digital, dan jaringan promosi wisata, produk lokal dapat menjangkau konsumen di luar Merauke.
Selain itu, produk UMKM perlu diintegrasikan ke dalam paket perjalanan wisata. Wisatawan yang datang ke Wasur seharusnya tidak hanya menikmati panorama alam, tetapi juga diarahkan untuk mengenal, menggunakan, dan membeli produk masyarakat. Dengan cara itu, setiap kunjungan wisata dapat menciptakan dampak ekonomi yang lebih nyata.
Pendekatan Collaborative Governance menjadi penting karena pengembangan pariwisata dan UMKM tidak dapat dilakukan secara sektoral. Pemerintah memiliki kewenangan dalam regulasi dan anggaran. Pelaku usaha memiliki pengalaman dalam produksi. Pengelola wisata memahami karakter destinasi. Akademisi dapat memberikan dukungan pengetahuan. Sementara sektor swasta dan agen perjalanan dapat memperluas pasar.
Kolaborasi tersebut harus dibangun atas dasar pembagian peran yang jelas, bukan sekadar pertemuan atau penandatanganan kerja sama. Keberhasilan kolaborasi harus diukur melalui hasil konkret, seperti meningkatnya jumlah UMKM aktif, bertambahnya produk yang dipasarkan, meningkatnya pendapatan pelaku usaha, dan terbukanya jaringan pemasaran baru.
Sudah saatnya keberhasilan pariwisata Kampung Wasur tidak hanya dinilai dari banyaknya kunjungan atau luasnya promosi destinasi. Ukuran keberhasilan yang lebih penting adalah sejauh mana masyarakat lokal memperoleh manfaat dari pertumbuhan sektor tersebut.
Pariwisata yang berkembang tanpa melibatkan masyarakat hanya akan menghasilkan keramaian sementara. Sebaliknya, pariwisata yang terhubung dengan UMKM lokal dapat menciptakan fondasi ekonomi yang lebih kuat, inklusif, dan berkelanjutan.
Karena itu, pengembangan Kampung Wasur harus diarahkan pada satu tujuan utama, yaitu menjadikan potensi wisata sebagai kekuatan ekonomi masyarakat. Wasur tidak boleh hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga karena keberhasilannya membangun UMKM lokal yang mandiri, kreatif, dan berdaya saing.
- Perlukah Narapidana yang Mendapat Abolisi Menunggu Lima Tahun untuk Mendapatkan Hak Politik?
- Kedaulatan Digital: Garis Depan Baru Pertahanan Nasional
- Menakar Keadilan Era KUHP Baru dan Arti Penting UU Perampasan Aset